makalaH pengaruh derajat keasaman terhadap kecepatan membuka dan menutupnya operculum ikan?

  1. Pendahuluan

1.1.            Latar Belakang

1.2.            Rumusan masalah

  • Bagaimana pengaruh derajat keasaman terhadap kecepatan membuka dan menutupnya operculum ikan?
  • Bagaimana pengaruh derajat keasaman terhadap perilaku ikan?

1.3.            Tujuan

  • Untuk mengetahui pengaruh derajat keasaman terhadap kecepatan membuka dan menutupnya operculum ikan
  • Mengetahui pengaruh derajat keasaman terhadap perilaku ikan

 

  1. Kajian teori

Ikan Mas adalah salah satu jenis ikan peliharaan yang penting sejak dahulu hingga sekarang. Daerah yang sesuai untuk mengusahakan pemeliharaan ikan ini yaitu daerah yang berada antara 150 – 600 meter di atas permukaan laut, pH perairan berkisar antara 7-8 dan suhu optimum 20-25 oC. Ikan Mas hidup di tempat-tempat yang dangkal dengan arus air yang tidak deras, baik di sungai danau maupun di genangan air lainnya ( Asmawi, 1986).

Ikan Mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang, agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (babels), ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata, 1983).

Ikan Mas dikenal sebagai ikan pemakan segala (omnivora) yang antaralain memakan serangga kecil, siput cacing, sampah dapur, potongan ikan, dan lain-lain (Asmawi,1986).

Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) dapat digunakan sebagai hewan uji hayati karena sangat peka terhadap perubahan lingkungan (Brinley cit. Sudarmadi, 1993). Di Indonesia ikan yang termasuk famili Cyprinidae ini termasuk ikan yang populer dan paling banyak dipelihara rakyat, serta mempunyai nilai ekonomis. Ikan mas sangat peka terhadap faktor lingkungan pada umur lebih kurang tiga bulan dengan ukuran 8 – 12 cm. Disamping itu ikan mas di kolam biasa (Stagnan water) kecepatan tumbuh 3 cm setiap bulannya (Arsyad dan Hadirini cit. Sudarmadi, 1993).

Hal – hal yang dapat mempengaruhi ikan mas (Cyprinus carpio L.) dalam fungsinya sebagai Early Warning System adalah sebagai berikut :

 

– Suhu

Suhu mempengaruhi aktifitas ikan, seperti pernapasan, pertumbuhan dan reproduksi (Huet, 1970 dalam Lelono, 1986). Suhu air sangat berkaitan erat dengan konsentrasi oksigen terlarut dan laju konsumsi oksigen hewan air. Pada perairan umum semakin bertambah kedalaman air maka suhu semakin semakin menurun (Ahmad dkk, 1998).

 

– pH

Toksisitas suatu senyawa kimia dipengaruhi oleh derajat keasaman suatu media. Nilai pH penting untuk menentukan nilai guna suatu perairan. Batas toleransi organisme air terhadap pH adalah bervariasi tergantung suhu, kadar oksigen terlarut, adanya ion dan kation, serta siklus hidup organisme tersebut (Pescond, 1973). Sedang titik batsas kematian organisme air tehadap pH adalah pH 4 dan pH 11. (Caborese, 1969 dalam Boyd, 1988).

 

Kisaran PH

Pengaruh terhadap ikan

<4

Titik kematian pada kondisi asam

4-5

Tidak bereproduksi

5-6,5

Pertumbuhan lambat

6,5-9

Sesuai untuk reproduksi

>11

Titik kematian pada konisi basa

 

– DO (Dissolved Oxigen)

DO merupakan perubahan mutu air paling penting bagi organisme air, pada konsentrasi lebih rendah dari 50% konsentrasi jenuh, tekanan parsial oksigen dalam air kurang kuat untuk mempenetrasi lamela, akibatnya ikan akan mati lemas (Ahmad dkk,1998). Kandungan DO di kolam tergantung pada suhu, banyaknya bahan organik, dan banyaknya vegetasi akuatik (Huet, 1970 dalam Lelono, 1986).

 

– Amoniak (NH3-N)

Sumber utama amoniak adalah bahan organik dalam bentuk sisa pakan, kotoran ikan, maupun dalam bentuk plankton dan bahan organik tersuspensi. Pembusukan bahan organik terutama yang banyak mengandung protein menghasilkan amonium (NH4+) dan amoniak.

Bila proses dilanjutkan dari proses pembusukan (nitrifikasi) tidak berjalan lancar maka terjadi penumpukan amoniak sampai pada konentrasi yang membahayakan bagi ikan. Didalam perairan NH3 terdapat dalam bentuk terionisasi dan tidak terionisasi (Boyd, 1982). Amoniak tidak terionisasi toksik terhadap ikan dan ketoksikannya meningkat ketika kandungan DO rendah (Markens dan Downing, 1958 dalam Boyd, 1990).

 

– Karbondioksida (CO2)

Karbondioksida bersumber dari hasil proses fotosintesis atau difusi dari udara dan hasil dari proses respirasi organisme akuatik. Di dasar perairan karbondioksida juga dihasilkan oleh proses dekomposisi. Karbondioksida sebesar 10 mg/L atau lebih masih dapat ditolerir oleh ikan bila kandungan oksigen di perairan cukup tinggi. Kebanyakan spesies biota akuatik masih dapat hidup pada perairan yang memiliki kandungan karbondioksida bebas lebih dari 60 mg/L).

Ketika kandungan oksigen perairan rendah, proses fotosintesis berjalan lambat, sehingga karbondioksida banyak dilepaskan oleh proses respirasi biota akuatik dan yang tidak terserap oleh phytoplankton (Boyd, 1982).

 

  1. Metode praktikum

3.1.            Alat dan Bahan

  • Ikan                                 3 ekor
  • Wadah plastik                  3 buah
  • Larutan ber-PH 4             100 ml
  • Larutan ber-PH 6             100 ml
  • Larutan ber-PH 7             100 ml
  • Stopwatch                                    1 buah

 

3.2.            Rancangan percobaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3.            Cara Kerja

  • Memasukkan larutan ber-PH 4 ke dalam wadah A, memaukkan larutan ber-PH 6 ke dalam wadah B, dan memasukkan larutan ber-PH 7 kedalam wadah C
  • Memasukkan ikan masing-masing 1 ekor kedalam tiap – tiap wadah
  • Menghitung jumlah membuka dan menutupnya opercolum ikan pada sepuluh menit pertama,10 menit kedua, dan sepuluh menit ketiga

 

3.4.            Variabel

  • Variabel mannipulasi       : PH larutann
  • Variabel respon               : kecepatan membuka dan menutunya opeculum ikan
  • Variabel kontrol               : jenis ikan, wadah, volume larutan, waktu perhitungan

 

  1. Hasil dan pembahasan

 

Waktu

Wadah

Keadaan

Jumlah

Rata-rata

10 menit pertama

A

Agak tenang namun terkadang bernadas cepat 1010 1013,33

B

Terkadang benafas cepat 930 956

C

Tenang operculum terbuka kecil 850 833

10 menit kedua

A

Sangat aktif dan melompat-lompat dipermukaan 1081 1013,33
B Banyak bergerak banyak berada didasar wadah 952 956
C Tenang operculum terbuka kecil 839 833
10 menit ketiga A Mulai berada didasar wadah dan kurang aktif, pada menit ketujuh mati 949 1013,33
B Aktif bergerak dan lebih sering berada dipinggir wadah 986 956
C Tenang dan kondisinya sama ketika pertamakali dimasukkan 810 833

 

  1. Penutup
  2. Daftar pustaka

–                    http:/pets.dir.groupa.yahoo.com/groups/ikan_hias/massage/6215

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s